Bagaimana Asal Mula Ilmu Kimia (Alkimia)?

       Kimia adalah cabang dari ilmu fisik yang mempelajari tentang susunan, struktur, sifat, dan perubahan materi. Ilmu kimia meliputi topik-topik seperti sifat-sifat atom, cara atom membentuk ikatan kimia untuk menghasilkan senyawa kimia, interaksi zat-zat melalui gaya antarmolekul yang menghasilkan sifat-sifat umum dari materi, dan interaksi antar zat melalui reaksi kimia untuk membentuk zat-zat yang berbeda. Para ahli berbeda pendapat mengenai etimologi dari kata kimia. Sejarah kimia dapat ditelusuri kembali sampai pada alkimia, yang sudah dipraktikkan selama beberapa  milenia  di berbagai belahan dunia. (Wikipedia.org)

   Ilmu kimia modern mulai berkembang 200 tahun lalu dari studi-studi kuno yang dilakukan para ahli alkimia, atau ahli alkemi, selama 2.000 tahun sebelumnya. Berabad-abad yang lalu, sebagian besar orang mempelajari kimia dengan tujuan yang sama: menemukan cara mengubah logam biasa, seperti timbal dan besi, menjadi emas. Selain mahal, emas dianggap mampu menyembuhkan semua penyakit dan memberikan hidup abadi.

   Alkimia bisa dilacak balik ribuan tahun yang lalu oleh para filsuf, ukang sihir, dan pengamat bintang. Tulisan paling awal tentang alkimia berasal dari Mesir (1500 SM), Cina (600 SM), dan Yunani (500 SM). Ada yang menganggap istilah alkimia berasal dari kata Arab al-Khem yang berarti “seni dari Mesir”.

   Seperti yang dilakukan oleh para kimiawan modern, awalnya para ahli alkimia atau alkemi menghabiskan waktu mereka dengan bekerja keras mengubah suatu zat menjadi zat lain. Namun, tidak seperti kimiawan modern, mereka tidak melakukan eksperimen ilmiah untuk menemukan mengapa dan bagaimana suatu perbuhana terjadi. Berabad-abad, mereka hanya mengisi waktunya dengan mengaduk dan memanasi berbagai campuran aneh. Mereka melakukan itu sambil mengucapkan mantera-mantera. Namun, meskipun tidak berhasil mengubah logam biasa menjadi emas, para ahli alkemi ini menemukan banyak peralatan yang bermanfaat. Mereka dapat mengembangkan teknik membuat larutan serta menemukan teknik memisahkan campuran dengan cara melakukan penyaringan dan penyulingan.

Penemu Fosfor

Ahli Alkemi: Hennig Brand

Sumber: Wikipedia.org

Artikel Lain :  Cara Mudah Memahami Analisis Dimensi

    Tahun 1669, Hennig Brand dari Hanburg bereksperimen dengan campuran yang mengandung air seni singa. Brand berpikir, cairan berwarna keemasan ini mengandung emas, ia tidak mendapatkan emas. Namun sebaliknya, Brand menemukan unsur bercahaya yang ia sebut fosfor, dalam bahasa Yunani berarti “pembawa terang”

Teori Alkimia

     Salah satu teori utama alkimia adalah teori tentang empat unsur. Teori ini mengatakan bahwa semua zat terbuat dari campuran berbeda hanya dari empat unsur. Keempat unsur itu adalah udara, tanah, api, dan air. Setiap unsur terbuat dari pasangan di antara empat sifat: dingin, kering, panas, dan baha (lembab). Api adalah gabungan panas dan kering. Tanah adalah gabungan basah dan dingin. Udara adalah gabungan kering dan dingin. Sedangkan air adalah gabungan basah dan panas.

   Para ahli alkimia ingin menjelaskan suatu proses seperti mendidih dengan menyatakan bahwa panas mengubah dingin dari dingin basahnya air, sebagai contoh, menjadi panas basahnya udara yang adalah uap.

Kemunduran Alkimia

    Studi alkimia mencapai puncaknya pada sekitar tahun 1.400 M. Setelah itu, orang mulai meragukan teori-teori alkimia. Orang mulai melakukan percobaan-percobaan atau eksperimen-eksperimen. Mereka melakukan pengukuran secara lebih teliti. Mereka berusaha menjelaskan apa yang mereka lihat tanpa berpatokan pada takhayul-takhayul. Studi-studi ini perlahan-lahan menjadi lebih terorganisasi dan ilmiah. Sementara itu, penyebaran buku cetakan membantu para sarjana berbagi pendapat.

Kelahiran Ilmu Kimia

Ilmu kimia dan alkemi dipakai bersama-sama hingga pertengahan abad ke-17. Tahun 1661, kimiawan Inggris, Robert Boyle (1627-1691) menerbitkan The Sceptical Chymist. Buku ini membantu memisahkan ilmu kimia dari alkemi dan membentuk ilmu kimia sebagai subjek tersendiri.

Boyle menggunakan gagasan rahib dan filsuf Roger Bacon untuk menetapkan aturan-aturan penyelidikan ilmiah. Boyle menunjukkan atau menjelaskan eksperimen-eksperimen yang membuktikan bahwa sistem empat unsur tidak dapat menjelaskan sifat banyak zat. Sebaliknya, Boyle mengatakan bahwa setiap unsur adalah zat tunggal murni yang tidak dapat dipecah menjadi zat yang lebih sederhana. Minat atau perhatian kepada alkemi berangsur lenyap ketika para alkimiawan mulai memusatkan diri untuk memurnikan zat-zat dan dengan seksama menyelidiki sifat-sifatnya.

Artikel Lain :  Pengertian, Materi, Laporan Percobaan Lazzaro Spallanzani dan Contohnya

Perkembangan Ilmu Kimia

   Pada tahun 1766, ilmuwan Inggris, Henry Cavendish menemukan cara membuat gas hidrogen dengan menuangkan asam pada logam, seperti seng atau besi. Dia menyebut gas tersebut “udara yang mudah terbakar” karena karena mudah terbakar saat diberi percikan dari korek api.

     Sekitar tahun 1772, ahli kimia Swedia, Carl Schlee (1742-1786) menemikan oksigen dalam udara. Pada tahun 1781, kimiawan Inggris, Joseph Priestley (1733-1804) menunjukkan bahwa air terbentuk ketika hidrogen terbakar di udara. Kemudian, Cavendish membuat air dengan membakar hidrogen dalam oksigen. Semua hasil percobaan ini dikumpulkan selama 15 tahun, walaupun belum ada yang dapat memahami sepenuhnya hal tersebut.

Antoine Laurent Lavoisier               (Bapak Kimia Modern)

Sumber: www.merdeka.com

Kemudian, di tahun 1783, kimiawan Perancis, Antoine-Laurent Lavoisier mengulang eksperimen Cavendish dan menggunakan gagasan tentang unsur untuk menjelaskan hasil-hasil percobaan yang ada. Lavoisier mengatakan bahwa hidrogen dan oksigen adalah unsur-unsur dan air adalah senyawa dari keduanya. Dia juga mengatakan bahwa logam adalah unsur, sedangkan asam adalah senyawa yang mengandung hidrogen. Jika asam dan logam  bercampur, maka logam menggantikan tempat hidrogen yang terlepas dalam bentuk gas. Gagasan Lavoisier, bahwa unsur-unsur dapat memisahkan diri dan dapat bergabung lagi satu sama lain dalam kombinasi berbeda, dimana gagasan ini kemudian menjadi salah satu dasar ilmu kimia modern yang digunakan hingga saat ini.

 

Referensi

Ensiklopedia IPTEK: Ensiklopedia Sains untuk Pelajar dan Umum. Jakarta :Lentera Abadi

Wikipedia.org